Senin, 04 Januari 2016

Tugas Softskill 11 Pengaruh Kelas Sosial dan Status

PENGARUH KELAS SOSIAL DAN STATUS

PENGERTIAN KELAS SOSIAL
Kelas sosial adalah serangkaian konsep dalam ilmu-ilmu sosial dan teori politik berpusat pada model stratifikasi sosial di mana seseorang dikelompokkan ke dalam seperangkat kategori sosial hirarkis.Kelas adalah obyek penting dari analisis untuk sosiolog, ilmuwan politik, antropolog dan sejarawan sosial. Namun, tidak ada konsensus mengenai definisi terbaik dari “kelas” panjang, dan istilah memiliki makna kontekstual yang berbeda. Dalam bahasa umum, “kelas sosial”, merupakan istilah yang biasanya identik dengan “kelas sosial-ekonomi,” didefinisikan sebagai: “orang  yang memiliki status sosial, ekonomi, atau pendidikan yang sama,” misalnya, “kelas pekerja”; “bermunculan profesional kelas- Kelas sosial terbagi menjadi kelas atas, kelas menengah dan kelas bawah.
Pada prinsipnya, jika setiap atribut manusia diciptakan dalam suatu masyarakat dapat dibagi menjadi kelas-kelas sosial yang berbeda maka kelas sosial tersebut dapat dibagi berdasarkan pekerjaan, pendidikan, pendapatan, pengaruh politik, asal negara, jenis kelamin. Pengertian kelas sejalan dengan pengertian lapisan tanpa harus membedakan dasar pelapisan masyarakat tersebut. Kelas Sosial atau Golongan sosial mempunyai arti yang relatif lebih banyak dipakai untuk menunjukkan lapisan sosial yang didasarkan atas kriteria ekonomi. Jadi, definisi Kelas Sosial atau Golongan Sosial ialah: Sekelompok manusia yang menempati lapisan sosial berdasarkan kriteria ekonomi.

FAKTOR PENENTU KELAS SOSIAL

Apakah yang menyebabkan seseorang tergolong ke dalam suatu kelas sosial tertentu? Jawaban terhadap pertanyaan tersebut sangat beragam, karena strata sosial dalam masyarakat dapat terjadi dengan sendirinya sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan masyarakat itu sendiri atau terjadi dengan sengaja disusun untuk mengejar tujuan­-tujuan atau kepentingan-kepentingan bersama. Secara ideal semua manusia pada dasarnya sederajat. Namun secara realitas, disadari ataupun tidak ada orang-orang yang dipandang tinggi kedudukannya dan ada pula yang dipandang rendah kedudukannya. Dalam istilah sosiologi kedudukan seseorang dalam masyarakat disebut status atau kedudukan sosial (posisi seseorang dalam suatu pola hubungan sosial yang tertentu). Status merupakan unsur utama pembentukan strata sosial, karena status mengandung aspek struktural dan aspek fungsional. Aspek struktural adalah aspek yang menunjukkan adanya kedudukan - tinggi dan rendah dalam hubungan antar status. Aspek fungsional, yaitu aspek yang menunjukkan adanya hak-hak dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan oleh penyandang status.

Talcott Persons, menyebutkan ada lima menentukan tinggi rendahnya status seseorang, yaitu:
1.      Kriteria kelahiran (ras, kebangsawanan, jenis keCamin,
2.      Kualitas atau mutu pribadi (umur, kearifan atau kebijaksanaan)
3.      Prestasi (kesuksesan usaha, pangkat,
4.      Pemilikan atau kekayaan (kekayaan harta benda)

Otoritas (kekuasaan dan wewenang: kemampuan-untuk menguasai/ mempengaruhi orang lain sehingga orang itu mau bertindak sesuai dengan yang diinginkan tanpa perlawanan)

Beberapa indikator lain yang berpengaruh terhadap pembentukan kelas sosial, yaitu:

a.   Kekayaan
Untuk memahami peran uang dalam menentukan strata sosiai/kelas sosial, kita harus menyadari bahwa pada dasamya kelas sosial merupakan suatu cara hidup. Artinya bahwa pada kelas-kelas sosial tertentu, memiliki cara hidup atau pola hidup tertentu pula, dan untuk menopang cara hidup tersebut diperlukan biaya dalam hal ini uang memiliki peran untuk menopang cara hidup kelas sosial tertentu.
Sebagai contoh: dalam kelas sosial atas tentunya diperlukan banyak sekali uang untuk dapat hidup menurut tata cara kelas sosial tersebut. Namun demikian, jumlah uang sebanyak apa pun tidak menjamin segera mendapatkan status kelas sosial atas. "Orang Kaya Baru" (OKB) mungkin mempunyai banyak uang, tetapi mereka tidak otomatis memiliki atau mencerminkan cara hidup orang kelas sosial atas. OKB yang tidak dilahirkan dan disosiaiisasikan dalam sub-kultur kelas sosial atas, maka dapat dipastikan bahwa sekali-sekali ia akan melakukan kekeliruan, dan kekeliruan itu akan menyingkap sikap kemampuannya yang asli. Untuk memasuki suatu status baru, maka dituntut untuk memiliki sikap, perasaan, dan reaksi yang merupakan kebiasaan orang status yang akan dituju, dan hal ini diperlukan waktu yang tidak singkat.
Uang juga memiliki makna halus lainnya. Penghasilan yang diperoleh dari pekerjaan profesional lebih memiliki prestise daripada penghasilan yang berujud upah dari pekerjaan kasar. Uang yang diperoleh dari pekerjaan halal lebih memiliki prestise daripada uang hasil perjudian atau korupsi. Dengan demikian, sumber dan jenis penghasilan seseorang memberi gambaran tentang latar belakang keluarga dan kemungkinan cara hidupnya.
Jadi, uang memang merupakan determinan kelas sosiai yang penting; hal tersebut sebagian disebabkan oleh perannya dalam memberikan gambaran tentang latar belakang keluarga dan cara hidup seseorang.

b.  Pekerjaan
Dengan semakin beragamnya pekerjaan yang terspesialisasi kedalam jenis-jenis pekerjaan tertentu, kita secara sadar atau tidak bahwa beberapa jenis pekerjaan tertentu lebih terhormat daripada jenis pekerjaan lainnya. Hal ini dapat kita lihat pada masyarakat Cina klasik, dimana mereka lebih menghormati ilmuwan dan memandang rendah serdadu; Sedangkan orang-orang Nazi Jerman bersikap sebaliknya.
Mengapa suatu jenis pekerjaan harus memiliki prestise yang lebih tinggi daripada jenis pekerjaan lainnya. Hal ini merupakan masalah yang sudah lama menarik perhatian para ahli ilmu sosial. Jenis-jenis pekerjaan yang berprestise tinggi pada umumnya memberi penghasilan yang lebih tinggi; meskipun demikian terdapat banyak pengecualian (?). Jenis-jenis pekerjaan yang berprestise tinggi pada umumnya memerlukan pendidikan tinggi, meskipun korelasinya masih jauh dari sempuma. Demikian halnya pentingnya peran suatu jenis pekerjaan bukanlah kriteria yang memuaskan sebagai faktor determinan strata sosial, Karena bagaimana mungkin kita bisa mengatakan bahwa pekerjaan seorang petani atau polisi kurang berharga bagi masyarakat daripada pekerjaan seorang penasihat hukum atau ahli ekonomi ? Sebenarnya, pemungut sampah yang jenjang prestisenya rendah itulah yang mungkin merupakan pekerja yang memiliki peran penting dari semua pekerja dalam peradaban kota! Pekerjaan merupakan aspek strata sosial yang penting, karena begitu banyak segi kehidupan lainnya yang berkaitan dengan pekerjaan. Apabila kita mengetahui jenis pekerjaan seseorang, maka kita bisa menduga tinggi rendahnya pendidikan, standar hidup, pertemanannya, jam kerja, dan kebiasaan sehari-hari keluarga orang tersebut. Kita bahkan bisa menduga selera bacaan, selera rekreasi, standar moral, dan bahkan orientasi keagamaannya. Dengan kata lain, setiap jenis pekerjaan merupakan bagian dari cara hidup yang sangat berbeda dengan jenis pekerjaan lainnya.
Keseluruhan cara hidup seseoranglah yang pada akhimya menentukan pada strata sosial mana orang itu digolongkan. Pekerjaan merupakan salah satu indikator terbaik untuk mengetahui cara hidup seseorang. Oleh karena itu, pekerjaan-pun merupakan indikator terbaik untuk mengetahui strata sosial seseorang.

c.   Pendidikan
Kelas sosial dan pendidikan saling mempengaruhi sekurang-­kurangnya dalam dua hal. Pertama, pendidikan yang tinggi memerlukan uang dan motivasi. Kedua, jenis dan tinggi rendahnya pendidikan mempengaruhi jenjang kelas sosia. Pendidikan tidak hanya sekedar memberikan ketrampilan kerja, tetapi juga melahirkan perubahan mental, selera, minat, tujuan, etiket, cara berbicara - perubahan dalam keseluruhan cara hidup seseorang.
Dalam beberapa hal, pendidikan malah lebih penting daripada pekerjaan. De Fronzo (1973) menemukan bahwa dalam segi sikap pribadi dan perilaku sosial para pekerja kasar sangat berbeda dengan para karyawan kantor. Namun demikian, perbedaan itu sebagian besar tidak tampak bilamana tingkat pendidikan mereka seimbang.

Klasifikasi Kelas Sosial Pembagian Kelas Sosial terdiri atas 3 bagian yaitu:
1.      Berdasarkan Status Ekonomi.
Aristoteles membagi masyarakat secara ekonomi menjadi kelas atau golongan:
1.      Golongan sangat kaya
2.       Golongan kaya
3.      Golongan miskin.
Aristoteles menggambarkan ketiga kelas tersebut seperti piramida:
1.      Golongan pertama : merupakan kelompok terkecil dalam masyarakat. Mereka terdiri dari pengusaha, tuan tanah dan bangsawan.
2.      Golongan kedua : merupakan golongan yang cukup banyak terdapat di dalam masyarakat. Mereka terdiri dari para pedagang, dsbnya.
3.      Golongan ketiga : merupakan golongan terbanyak dalam masyarakat. Mereka kebanyakan rakyat biasa.

 2. Karl Marx juga membagi masyarakat menjadi tiga golongan, yakni:
1.      Golongan kapitalis atau borjuis : adalah mereka yang menguasai tanah dan alat produksi.
2.      Golongan menengah : terdiri dari para pegawai pemerintah.
3.      Golongan proletar : adalah mereka yang tidak memiliki tanah dan alat produksi. Termasuk didalamnya adalah kaum buruh atau pekerja pabrik.
Menurut Karl Marx golongan menengah cenderung dimasukkan ke golongan kapatalis karena dalam kenyataannya golongan ini adalah pembela setia kaum kapitalis. Dengan demikian, dalam kenyataannya hanya terdapat dua golongan masyarakat, yakni golongan kapitalis atau borjuis dan golongan proletar.

4.      Pada masyarakat Amerika Serikat, pelapisan masyarakat dibagi menjadi enam kelas yakni:
ü Kelas sosial atas lapisan atas ( Upper-upper class)
ü Kelas sosial atas lapisan bawah ( Lower-upper class)
ü Kelas sosial menengah lapisan atas ( Upper-middle class)
ü Kelas sosial menengah lapisan bawah ( Lower-middle class)
ü Kelas sosial bawah lapisan atas ( Upper lower class)
ü Kelas sosial lapisan sosial bawah-lapisan bawah ( Lower-lower class)

Kelas sosial pertama : keluarga-keluarga yang telah lama kaya.
Kelas sosial kedua : belum lama menjadi kaya
Kelas sosial ketiga : pengusaha, kaum professional Kelas sosial
keempat : pegawai pemerintah, kaum semi profesional, supervisor, pengrajin terkemuka
Kelas sosial kelima : pekerja tetap (golongan pekerja)
Kelas sosial keenam : para pekerja tidak tetap, pengangguran, buruh musiman, orang bergantung pada tunjangan.
5.      Dalam masyarakat Eropa dikenal 4 kelas, yakni:
§ Kelas puncak (top class)
§ Kelas menengah berpendidikan (academic middle class) Kelas menengah ekonomi (economic middle class)
§ Kelas pekerja (workmen dan Formensclass)
§ Kelas bawah (underdog class)

2. Berdasarkan Status Sosial
Kelas sosial timbul karena adanya perbedaan dalam penghormatan dan status sosialnya. Misalnya, seorang anggota masyarakat dipandang terhormat karena memiliki status sosial yang tinggi, dan seorang anggota masyarakat dipandang rendah karena memiliki status sosial yang rendah.
Contoh : Pada masyarakat Bali, masyarakatnya dibagi dalam empat kasta, yakni Brahmana, Satria, Waisya dan Sudra. Ketiga kasta pertama disebut Triwangsa. Kasta keempat disebut Jaba. Sebagai tanda pengenalannya dapat kita temukan dari gelar seseorang. Gelar Ida Bagus dipakai oleh kasta Brahmana, gelar cokorda.

3. Berdasarkan Status Politik Secara politik
Secara politik, kelas sosial didasarkan pada wewenang dan kekuasaan. Seseorang yang mempunyai wewenang atau kuasa umumnya berada dilapisan tinggi, sedangkan yang tidak punya wewenang berada dilapisan bawah. Kelompok kelas sosial atas antara lain:
- pejabat eksekutif, tingkat pusat maupun desa.
- pejabat legislatif, dan
- pejabat yudikatif.
Pembagian kelas-kelas sosial dapat kita lihat dengan jelas pada hirarki militer.
A. Kelas Sosial Atas (perwira) Dari pangkat Kapten hingga Jendral
B. Kelas sosial menengah (Bintara) Dari pangkat Sersan dua hingga Sersan mayor
C. Kelas sosial bawah (Tamtama) Dari pangkat Prajurit hingga Kopral kepala


APAKAH KELAS SOSIAL BERUBAH

Kelas sosial akan pasti berubah, sama halnya seperti roda kehidupan yang selalu berputar. Kadang seseorang berada dalam status sosial yang tinggi atau berada saat mapan atau di hormati, tetapi terkadang lambat laun akan berada di posisi bawah, yaitu ketika mereka tidak lagi berjaya, kaya, atau di hormati seperti sebelum – sebelumnya. Ketika kelas sosial berubah perubahan itu juga akan mempengaruhi perilaku dan selera konsumen terhadap suatu barang. Misalnya seorang yang biasa mengkonsumsi nasi dari beras yang mempunyai kualitas yang rendah, tetapi apabila ia menjadi kaya atau memperoleh rezeki yang berlebih maka ia akan merubah beras yang di konsumsi dari yang berkualitas rendah ke kualitas yang lebih tinggi. Dan ini juga bisa mempengaruhi berbagai permintaan produksi suatu barang maupun jasa.

PEMASARAN PADA SEGMEN PASAR BERDASARKAN KELAS SOSIAL

Pemasaran pada segmen pasar berdasarkan kelas sosial berbeda – beda sesuai dengan kelas sosial yang ingin di tuju. Bisa dilihat apabila ingin memasarkan suatu produk yang mempunyai kelas sosial yang tinggi biasanya menggunakan iklan yang premium atau bisa di bilang lebih eksklusif karena dapat diketahui bahwa orang – orang yang berada di kelas sosial atau memiliki status sosial yang tertinggi, mereka lebih memilih produk yang higienis, terbaru, bermerk, dan kualitas yang sangat bagus. Berbeda apabila pemasaran dilakukan untuk orang – orang yang berada pada kelas sosial terendah. Penggunaan iklan pun kurang di gencarkan dan biasanya malah lebih menggunakan promosi yang lebih kuat, karena kelas sosial yang rendah lebih banyak mementingkan sebuah kuantitas suatu produk dengan harga yang murah. Jadi berbeda sekali pemasaran yang dilakukan apabila melihat dari posisi kelas sosial yang ada.


PENGERTIAN STATUS SOSIAL

Status sosial adalah sekumpulan hak dan kewajian yang dimiliki seseorang dalam masyarakatnya (menurut Ralph Linton). Orang yang memiliki status sosial yang tinggi akan ditempatkan lebih tinggi dalam struktur masyarakat dibandingkan dengan orang yang status sosialnya rendah.
Status sosial sering pula disebut sebagai kedudukan atau posisi, peringkat seseorang dalam kelompok masyarakatnya. Pada semua sistem sosial, tentu terdapat berbagai macam kedudukan atau status, seperti anak, isteri, suami, ketua RW, ketua RT, Camat, Lurah, Kepala Sekolah, Guru dsbnya. Dalam teori sosiologi, unsur-unsur dalam sistem pelapisan masyarakat adalah kedudukan (status) dan peranan ( role). Kedua unsur ini merupakan unsur baku dalam pelapisan masyarakat. Kedudukan dan peranan seseorang atau kelompok memiliki arti penting dalam suatu sistem sosial.

SISTEM SOSIAL

Sistem sosial adalah pola-pola yang mengatur hubungan timbal balik dan tingkah laku individu-individu dalam masyarakat dan hubungan antara individu dan masyarakatnya. Status atau kedudukan adalah posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial atau kelompok masyarakat.
Cara-cara memperoleh status atau kedudukan adalah sbb:
1.      Ascribed Status adalah keuddukan yang diperoleh secara otomatis tanpa usaha. Status ini sudah diperoleh sejak lahir. Contoh: Jenis kelamin, gelar kebangsawanan, keturunan, dsb.
2.      Achieved Status adalah kedudukan yang diperoleh seseorang dengan disengaja. Contoh: kedudukan yang diperoleh melalui pendidikan guru, dokter, insinyur, gubernur, camat, ketua OSIS dsb
3.      Assigned Status merupakan kombinasi dari perolehan status secara otomatis dan status melalui usaha. Status ini diperolah melalui penghargaan atau pemberian dari pihak lain, atas jasa perjuangan sesuatu untuk kepentingan atau kebutuhan masyarakat. Contoh: gelar kepahlawanan, gelar pelajar teladan, penganugerahan Kalpataru dsb.
Akibat Adanya Status Sosial Kadangkala seseorang/individu dalam masyarakat memiliki dua atau lebih status yang disandangnya secara bersamaan. Apabila status-status yang dimilikinya tersebut berlawanan akan terjadi benturan atau pertentangan. Hal itulah yang menyebabkan timbul apa yang dinamakan Konflik Status. Jadi akibat yang ditimbulkan dari status sosial seseorang adalah timbulnya konflik status.

Macam-macam Konflik Status
1.      Konflik Status bersifat Individual: Konflik status yang dirasakan seseorang dalam batinnya sendiri. Contoh: – Seorang wanita harus memilih sebagai wanita karier atau ibu rumah tangga – Seorang anak harus memilih meneruskan kuliah atau bekerja.
2.      Konflik Status Antar Individu: Konflik status yang terjadi antara individu yang satu dengan individu yang lain, karena status yang dimilikinya. Contoh: – perebutan warisan antara dua anak dalam keluarga – Tono beramtem dengan Tomi gara-gara sepeda motor yang dipinjamnya dari kakak mereka.
3.      Konflik Status Antar Kelompok: Konflik kedudukan atau status yang terjadi antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain. Contoh: Peraturan yang dikeluarkan satu departemen bertentangan dengan peraturan departemen yang lain. DPU (Dinas Pekerjaan Umum) yang punya tanggung jawab terhadap jalan-jalan raya, kadang terjadi konflik dengan PLN (Perusahaan LIstrik Negara) yang melubangi jalan ketika membuat jaringan listrik baru. Pada waktu membuat jaringan baru tersebut, kadangkala pula berkonflik dengan TELKOM karena merusak jaringan telpon dan dengan PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) karena membocorkan pipa air.
4.      Instansi tersebut akan saling berbenturan dalam melaksanakan statusnya masing-masing. Pengertian Peranan Sosial

Fungsi Peranan Sosial Peranan memiliki beberapa fungsi bagi individu maupun orang lain.Fungsi tersebut antara lain:
·         Peranan yang dimainkan seseorang dapat mempertahankan kelangsungan struktur masyarakat, seperti peran sebagai ayah atau ibu.
·         Peranan yang dimainkan seseorang dapat pula digunakan untuk membantu mereka yang tidak mampu dalam masyarakat. Tindakan individu tersebut memerlukan pengorbanan, seperti peran dokter, perawat, pekerja sosial, dsb.
·         Peranan yang dimainkan seseorang juga merupakan sarana aktualisasi diri, seperti seorang lelaki sebagai suami/bapak, seorang wanita sebagai isteri/ ibu, seorang seniman dengan karyanya, dsb.



Sumber:

Sabtu, 26 Desember 2015

Tulisan ke-10 Softskill Perilaku Konsumen tentang CSR dan Laporan Keuangan Tahunan PT MAYORA INDAH TBK.




Program CSR PT. Mayora Indah, Tbk.
Jenis program yang dilakukan oleh Perseroan dalam kegiatan sehubungan dengan tanggung jawab sosial perusahaan selama tahun 2012, diantaranya adalah memberikan penyuluhan kepada masyarakat untuk menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan masing masing, termasuk dalam kegiatan pelestarian lingkungan, pemberian beasiswa kepada anak anak yang membutuhkan, berpartisipasi dalam perayaan Hari Raya Keagamaan dan berperan aktif dalam membantu para korban bencana.
Jumlah biaya yang dikeluarkan Perseroan dalam kegiatan CSR ini tidak lebih dari satu milyard Rupiah. Dalam bidang praktik ketenaga kerjaan, Perseroan menyediakan pelayanan kesehatan disetiap lokasi pabrik dan mengikut sertaka nseluruh pekerja dalam program Asuransi Tenaga Kerja. Dalam bidang keselamatan kerja Perseroan memiliki Safety Officer yang telah mendapat sertifikasi SMK3, yaitu Sistem Management Kesehatan dan Keselamatan Kerja yang bertugas memastikan bahwa Patroli K3 telah dilaksanakan setiap saat, Pemeriksaan jalur hidran telah dilakukan sesuai jadwalnya, pemeriksaan fire alarm telah dijalankan sesuai waktunya, dan Perseroan juga memiliki ijin pengoperasian bagi alat alat yang digunakan seperti : ijin penggunaan ketel uap, ijin penggunaan bejana tekan, ijin penggunaan alat angkat dan angkut, serta lainnya.
Perseroan tidak pernah melakukan diskriminasi dalam segala hal, semua pekerja mempunyai kesempatan yang sama sesuai peraturan yang ada, tanpa membedakan gender, suku, agama maupun ras. Hasil produksi, merupakan “nyawa' bagi suatu perusahaan. Karenanya sejak pertama kali seorang pekerja diterima sebagai karyawan Perseroan, divisi training Perseroan telah memberikan pelatihan bahwa Our Value adalah : Consumer, People, Team Work, Excellence dan Menjadi Manusia DJITU. Penjelasan dari CONSUMER, adalah : Prioritaskan kerja untuk kepuasan konsumen. Untuk itu Perseroan mempraktekan 5 R ( Ringkas, Rapih, Resik, Rawat, Rajin ), GMP ( Good Manufacturing Practices ), Hygiene & Sanitary bersertifikat, Halal bersertifikat dari MUI, ISO 9001:2008 bersertifikat dan ISO 22000: 2005 bersertifikat. Untuk menampung masukan dari konsumen, dalam setiap kemasan produk yang dijual, Perseroan selalu mencantumkan alamat pengaduan konsumen.

 Ikhtisar Data Keuangan Penting :

 

 

Analisis Kinerja Keuangan komprehensif
 Pada tanggal 31 Desember 2012 Jumlah Aset Lancar Perseroan dan entitas anak adalah sebesar Rp. 5.314 milyard sedangkan pada tahun 2011, adalah sebesar Rp. 4.095 milyard. Sementara Jumlah Aset Tidak Lancar pada tahun 2012 berjumlah Rp. 2.989 milyard sedangkan pada tahun 2011 berjumlah Rp.2.505 milyard. Total Aset Perseroan dan Entitas Anak pada tanggal 31 Desember 2012 adalah sebesar Rp. 8.303 milyard sedangkan pada tahun 2011 berjumlah Rp. 6.600 milyard. Jumlah Liabilitas Jangka Pendek Perseroan pada tanggal 31 Desember 2012 adalah sebesar Rp. 1.924 milyard, sementara tahun 2011 Rp. 1.846 milyard. Sedangkan Jumlah Liabilitas Jangka Panjang Perseroan pada tanggal 31 Desember 2012 adalah sebesar Rp. 3.310 milyard naik sebesar 42,1 % dibandingkan tahun 2011 yang besarnya Rp. 2.329 milyard.
Total Liabilitas Perseroan pada tanggal 31 Desember 2012 adalah sebesar Rp. 5.235 milyard sedangkan Jumlah Liabilitas Perseroan pada tahun 2011 adalah sebesar Rp. 4.175 milyard. Sementara Jumlah Ekuitas pada tanggal 31 Desember 2012 adalah sebesar Rp. 3.068 milyard naik sebesar 26,5 % dibanding tahun 2011 yang Rp. 2.425 milyard. Pendapatan Perseroan selama tahun 2012 tercatat sebesar Rp. 10.511 milyard. Sedangkan jumlah pendapatan Perseroan selama tahun 2011 adalah sebesar Rp. 9.454 milyard. Atau naik sebesar 1.057 milyard. Jumlah Beban termasuk Beban Usaha, Beban Lain-Lain dan Beban Pajak selama tahun 2012 adalah sebesar Rp. 1.601,2 milyard, sementara tahun 2011 sebesar Rp. 1.174,9 milyard. Untuk Pendapatan Komprehensif lain adalah sebesar negatif Rp. 1,6 milyard dan Rp. 340 juta masing-masing pada tahun 2012 dan 2011, jumlah ini timbul akibat selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan; sedangkan Laba Komprehensif sebesar Rp. 744 milyard pada tahun 2012 dan Rp. 483 milyard pada tahun 2011. Perseroan menutup tahun 2012 dengan mencatatkan Laba Bersih konsolidasi sebesar Rp. 744 milyard atau naik sebesar 53,7 % dari tahun 2011 yang sebesar Rp. 484 milyard. Pada tahun 2012 arus Kas dan Setara Kas Bersih mengalami kenaikan sebesar Rp. 1.014 milyard, terutama karena adanya dana yang diterima dari hasil penerbitan Obligasi IV Mayora Indah dan Sukuk Mudharabah II Mayora Indah Tahun 2012. Sedangkan pada tahun 2011 terjadi penurunan arus Kas dan Setara Kas Bersih sebesar Rp. 147 milyard yang terutama disebabkan oleh adanya pengeluaran untuk Aset Tetap.

Kemampuan Membayar Hutang
Selain hutang dagang, hutang yang harus ditanggung oleh Perseroan per tanggal 31 Desember 2012 adalah sebagai berikut:
Hutang kepada Pemegang Obligasi Mayora Indah III Tahun 2008, yaitu sebesar Rp. 100.000.000.000,- (Seratus milyard Rupiah), hutang obligasi ini akan jatuh tempo pada bulan Juni tahun 2013.
Hutang kepada Pemegang Sukuk Mudharabah I Mayora Indah Tahun 2008, sebesar Rp. 200.000.000.000,- (Dua ratus milyard Rupiah), hutang obligasi ini akan jatuh tempo pada bulan Juni tahun 2013.
Hutang kepada Pemegang Obligasi IV Mayora Indah Tahun 2012, yaitu sebesar Rp. 750.000.000.000,- (Tujuh ratus lima puluh milyard Rupiah), hutang obligasi ini baru akan jatuh  tempo pada tanggal 09 Mei 2019.
Hutang kepada Pemegang Sukuk Mudharabah II Mayora Indah Tahun 2012, sebesar Rp. 250.000.000.000,- (Dua ratus lima puluh milyard Rupiah), hutang obligasi ini baru akan jatuh tempo pada tanggal 09 Mei 2017. 
  •  Pinjaman Bank Jangka Pendek, sbb :

  • Pinjaman Bank Jangka Panjang, sbb :  




Diluar hutang hutang tersebut, hutang yang menjadi kewajiban Perseroan adalah hutang yang timbul atas pembelian bahan baku dan keperluan produksi. Pihak management berkeyakinan bahwa, tidak akan ada kesulitan bagi Perseroan untuk memenuhi kewajiban membayar hutangnya pada saat jatuh tempo. 

Rasio atas hutang tersebut adalah sbb:
Tingkat likuiditas mencerminkan kemampuan Perseroan dan entitas anak dalam memenuhi Liabilitas Jangka Pendek, diukur dengan membandingkan Total Aset Lancar dengan Liabilitas Jangka Pendek. Pada tanggal 31 Desember tingkat likuiditas Perseroan adalah 2,76 kali dan 2,22 kali masing-masing pada tahun 2012 dan 2011. Tingkat Solvabilitas Perseroan dan Entitas Anak mencerminkan kemampuan Perseroan dalam memenuhi liabilitas jangka pendek dan jangka panjangnya yang tercermin dari perbandingan antara Total Liabilitas berbeban bunga dengan Total Ekuitas (Solvabilitas Ekuitas) dan perbandingan antara Total Liabilitas berbeban bunga dengan Total Aset (Solvabilitas Aset). Tingkat Solvabilitas Ekuitas Perseroan dan Entitas Anak pada tanggal 31 Desember 2012 dan 2011 adalah sebesar 1,23 kali dan 1,16 kali. Sedangkan tingkat Solvabilitas Aset Perseroan dan Entitas Anak pada tanggal 31 Desember 2012 dan 2011 adalah sebesar 0,46 kali dan 0,42 kali. 


Tingkat Kolektibilitas Piutang 
Sejak sebelum menjadi perusahaan publik pada tahun 1990 hingga saat ini, Perseroan menjalin kerjasama dengan PT. Inbisco Niagatama Semesta yang juga merupakan perusahaan yang terafiliasi (berelasi) dengan Perseroan, selaku distributor tunggal untuk pasar domestik. Tidak akan ada risiko piutang yang tidak tertagih yang harus ditanggung oleh Perseroan atas kerjasama ini. Perhitungan rasio dari kolektibilitas piutang tersebut adalah : 

Rasio Kolektibilitas Piutang Lancar per 31 Desember 2012 dan 2011 adalah 99,93% dan 99,97%. Untuk rasio kolektibilitas Piutang Ragu per 31 Desember 2012 dan 2011 adalah 0,03% dan 0,03%.


Struktur Permodalan dan kebijakan management atas struktur permodalan tersebut adalah:
Struktur Permodalan yang diambil oleh management pada tahun 2012 adalah sebesar 65% berasal dari pinjaman bank dan sebesar 35% dari surat utang, yaitu : 
   

 
Bahasan mengenai ikatan yang material untuk investasi barang modal

Sampai dengan 31 Desember 2012, Perseroan dan Entitas Anak tidak mempunyai ikatan yang dapat memberikan pengaruh material terhadap laporan keuangan selain yang telah diungkapkan dalam Laporan Keuangan sehubungan dengan investasi barang modal. 

Informasi dan Fakta material yang terjadi setelah tanggal laporan Akuntan
Pada tanggal 31 Januari 2013, Perseroan memperoleh fasilitas pinjaman Committed Long Term dengan jumlah maksimum sebesar Rp. 300 milyard untuk keperluan modal kerja dari PT. Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ dengan tingkat suku bunga sebesar JIBOR + 2,00 % per tahun dan jatuh tempo tanggal 31 Januari 2018. 


Perbandingan antara target/proyeksi pada awal tahun buku dengan hasil yang dicapai (realisasi) mengenai Pendapatan, Laba dan struktur permodalan.
Sebagaimana telah disampaikan dalam laporan Direksi,  Target Pendapatan yang ingin dicapai oleh Perseroan pada tahun 2012 adalah sebesar Rp. 11,4 milyard dan realisasinya adalah sebesar Rp. 10,5 milyard. Dari total pendapatan itu, Laba yang ditargetkan untuk dicapai adalah sebesar Rp. 646 milyard dan realisasinya adalah sebesar Rp. 744 milyard.

Kebijakan dividen
Merupakan suatu kebijakan yang ditetapkan oleh perusahaan untuk menetapkan berapa bagian dari laba bersih yang akan dibagikan sebagai dividen kepada para pemegang saham, dan berapa bagian dari laba bersih itu akan ditanamkan kembali sebagai laba yang ditahan untuk reinvestasi. Besarnya dividen Perseroan dibayarkan berdasarkan keputusan yang diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham dengan mempertimbangkan :
• Laba yang berhasil diperoleh
• Jumlah kas
• Anggaran modal yang harus dikeluarkan ditahun yang akan datang
Sambil tetap membagikan keuntungan yang diperoleh kepada para pemegang saham dalam bentuk dividen tunai, pihak management juga selalu memperhatikan bahwa Perseroan tetap harus memiliki ketersediaan dana yang mampu mendukung Modal Kerja Perseroan dan perluasan usaha yang ditargetkan untuk terus bertumbuh.
Pembagian dividen Perseroan selama 2 tahun terakhir adalah sbb :

 



(Sumber : Laporan Tahunan PT. MAYORA INDAH TBK. http://www.mayoraindah.co.id/wp-content/uploads/2013/08/AR-2012.pdf)